Minggu, 19 Juli 2009

LAPORAN MODUL 6,7,8 Membangun WEB SERVER di UBUNTU Server Edition

Juni 19, 2009

Web Server yaitu suatu tempat untuk menyimpan suatu data yang nantinya dapat dibuka dalam komputer lain.
a. Menginstall Ubuntu Server

1. Setup BIOS agar dapat Booting melalui CD

2. Masukkan CD Instalasi Linux Ubuntu Server 7.10 Gutsy Gibbons, tunggu beberapa saat hingga muncul tampilan

awal instalasi.

Pilih “Install to the hard disk” lalu tekan Enter.

3. Pemilihan bahasa Instalasi

4. Pemilihan Negara asal

5. Pendeteksian Keyboard

Silahkan tekan salah satu dari karakter yang ditampilkan

Pilih Yes jika karakter yang ditampilkan ada pada Keyboard Anda, jika tidak pilih No.

Pilih Continue untuk lanjut

6. Pendeteksian komponen-komponen hardware yang digunakan.

7. Konfigurasi Jaringan

Pilih “Configure network manually” untuk memasukkan IP Address statis

Tentukan IP Address yang akan digunakan komputer Server Ubuntu

Tentukan pula Subnet Mask

Tentukan IP Gateway jika komputer Server Ubuntu ini terkoneksi ke Area Jaringan lain melalui sebuah komputer

Gateway, jika tidak sebaiknya dikosongkan saja.

Tentukan alamat IP DNS jika komputer Server Ubuntu membutuhkan DNS Server lain untuk kebutuhan

penerjemahan alamat IP ke Nama FQDN dan sebaliknya, jika tidak sebaiknya dikosongkan saja.

Tentukan Hostname (Nama Komputer) Server Ubuntu

8. Pendeteksian Harddisk dan pembuatan partisi

a. Pendeteksian Harddisk

b. Pilih “Manual” agar kita bisa menentukan secara leluasa partisi apa saja yang akan dibuat serta

menentukan kapasitas masing-masing partisinya.

c. Arahkan Pilihan ke tipe harddisk yang terdeteksi seperti pada gambar di bawah, lalu tekan Enter

d. Pilih “Yes” untuk membuat partisi baru yang masih kosong

e. Pilih partisi yang masih kosong lalu tekan Enter, setiap akan menambah partisi baru pilihlah bagian partisi

yang masih kosong lalu tekan Enter.

f. Pilih “Create a new partition“ untuk membuat partisi baru, partisi yang pertama dibuat adalah partisi

boot kemudian swap dan terakhir adalah root.

g. Tentukan besar kapasitas partisi boot sebesar 100MB pada saat membuat partisi boot, sedang untuk partisi

swap: 2 x Kapasitas Memory RAM dan untuk partisi root seluruh dari kapasitas harddisk yang tersisa.

h. Tentukan lokasi partisi pada Primary Partition

i. Partisi boot diletakkan di awal harddisk, demikian juga untuk partisi-partisi lainnya

j. Konfigurasi partisi boot, pilih “Use as” untuk pemilihan tipe file sistem partisi

Jenis-jenis file sistem yang dikenali oleh Linux Ubuntu

Berikut daftar tipe file sistem yang digunakan untuk masing-masing partisi :

boot

: Ext3 journaling file system

swap

: swap area

root

: Ext3 journaling file system

k. Penentuan Mount Point

Daftar lokasi Mount Point untuk beberapa jenis partisi

Berikut daftar Mount Point yang digunakan untuk masing-masing partisi :

boot

: /boot

swap

: (kosong)

root

: /

l. Penentuan Bootable partisi, partisi yang akan digunakan untuk booting ke sistem, hanya partisi boot saja

yang pada bagian “Bootable flag” di aktifkan “on”, untuk partisi swap dan root tidak diaktifkan.

m. Setiap selesei membuat partisi pilih “Done setting up the partition”, setelah itu buat lagi partisi

berikutnya, yaitu partisi swap dan kemudian partisi root.

n. Jika berhasil maka akan tampil daftar partisi yang telah dibuat sebelumnya, pilih “Finish partition and

write changes to disk”

Pilih “Yes” untuk menyimpan partisi-partisi yang telah dibuat

9. Pemilihan Zona waktu

10. Konfigurasi sistem waktu yang digunakan

11. Konfigurasi Account dan Password yang akan digunakan masuk ke sistem Linux

a. Masukkan nama lengkap Anda

b. Tentukan Username untuk Account Anda

c. Tentukan Password untuk Account Anda

d. Masukkan password Anda lagi sama dengan password yang telah Anda tentukan sebelumnya

12. Instalasi paket-paket Linux Ubuntu

a. Instalasi paket-paket dasar Linux Ubuntu

b. Jika komputer Server Ubuntu akan menggunakan alamat Proxy server lain maka pada bagian ini Anda isi

dengan alamat proxy server yang ada di jaringan internet, jika tidak maka kosongkan saja.

c. Tentukan password untuk masuk ke MySQL Server, jika sebelumnya Anda telah memilih paket MySQL

Server.

d. Konfigurasi Mail Server, pilih “Internet Site” jika Mail Server Anda akan diakses dari jaringan internet.

e. Tentukan alamat domain dari Mail Server Anda

f. Instalasi selesai pilih “Continue” dan keluarkan CD Master Linux Ubuntu Server.

13. Jika proses instalasi berhasil maka setelah komputer booting ulang akan tampil jendela Loading system dan

muncul jendela Login yang meminta Anda memasukkan Username dan Password yang telah Anda tentukan

ketika proses instalasi berlangsung.

Jika Anda berhasil Login maka akan muncul command prompt

b. Apache

konfigurasi APACHE SERVER

Dengan mengimplementasikan DHCP server, komputer tersebut akan mendapatkan data-data berikut

secara otomatis :

1. IP Address yang unik dan Netmask yang sesuai

2. Default Gateway

3. DNS server

4. WINS Server (jika anda membutuhkannya)

Konfigurasi

Setelah semua paket terinstall maka yang diperlukan adalah melakukan konfigurasi dhcp server kita (di

/etc/dhcpd.conf ) dimana skenario yang terjadi adalah:

- Sebuah jaringan class C – 192.168.0.0 255.255.255.0

- Domain name nya mitra.com

- Gateway, DHCP dan DNS server memiliki alamat 192.168.0.1

Berikut isi dari file /etc/dhcpd.conf penulis berdasar skenario diatas

# opsi domain-name dapat anda isi dengan nama domain yang anda inginkan

# opsi domain-name-servers merupakan alamat IP dari DNS anda

option domain-name “mitra.com”;

option domain-name-servers 192.168.0.1;

# angka 86400 merupakan 86400 detik / 24jam. Beberapa aplikasi DHCP client menanyakan berapa lama

alamat IP nya dapat ditahan sebelum harus

# memperbaharuinya. Jika klien tidak menanyakan hal tersebut, maka server akan didasarkan pada nilai

dari default-lease-time untuk melakukan proses pembaharuan

# alamat IP dari klien itu. Namun jika klien membutuhkan hal tersebut, maka dipergunakan periode

maksimum (max-lease-time) bagi sebuah klien untuk menahan

# alamat IP yang dia diterima dari server DHCP sebelum ia harus memperbaharuinya lagi.

default-lease-time 86400;

max-lease-time 86400;

# opsi authoritative membantu bagi server DHCP untuk memberikan DHCPNACK ke klien yang tidak

terkonfigurasi dengan baik. Sebagai contoh dari klien yang

# tidak terkonfigurasi dengan baik adalah komputer yang dipindahkan secara fisik ke subnet lain tanpa

dilepaskan terlebih dahulu data lamanya.

authoritative;

# Parameter ddns-update-style memiliki 3 nilai. ad hoc sebaiknya tidak dipakai interim memungkinan server

DHCP untuk melakukan update server DNS anda.

# Jadi server DNS akan mengetahui alamat IP mana yang terhubung dengan komputer tertentu dalam

jaringan anda. Agar bisa berjalan, anda memerlukan server

# DNS yang mendukung Dynamic DNS(DDNS).Jika server DNS anda tidak mendukung DDNS, atau

tidak menginginkan menggunakan DDNS, gunakan none.

ddns-update-style none;

# di parameter berikut kita mendefinisikan jaringan dan netmask yang dipakai. Pada bagian ini ditentukan

range alamat IP yang akan diterima

# klien yang meminta alamat ke server DHCP. Pada contoh ini IP yang disiapkan adalah range

192.168.0.10 – 192.168.0.20.

# dengan gateway 192.168.0.1

subnet 192.168.0.0 netmask 255.255.255.0 {

range 192.168.0.10 192.168.0.20;

option routers 192.168.0.1;

}

Menjalankan Server DHCP

Pastikan opsi DHCPD_INTERFACE pada file /etc/sysconfig/dhcpd sesuai dengan system anda (pada

komputer penulis adalah eth1)

Jalankan server (distro penulis SuSE sesuaikan untuk distro dan metode instalasi yang Anda pakai) :

# /etc/init.d/dhcpd start

Starting DHCP server [chroot] done

Nyalakan komputer klien anda dan perhatikan hal-hal berikut (jika berhasil maka kurang lebih

tampilannya akan seperti berikut):

# tail /var/log/messages

Dec 31 09:49:13 samba-mitra dhcpd: DHCPREQUEST for 192.127.0.20 from 00:50:22:00:13:0b

(rudy-laptop) via eth1

Dec 31 09:49:13 samba-mitra dhcpd: DHCPACK on 192.127.0.20 to 00:50:22:00:13:0b (rudy-laptop) via

eth1

# more /var/lib/dhcp/dhcpd.leases

# All times in this file are in UTC (GMT), not your local timezone. This is

# not a bug, so please don’t ask about it. There is no portable way to

# store leases in the local timezone, so please don’t request this as a

# feature. If this is inconvenient or confusing to you, we sincerely

# apologize. Seriously, though – don’t ask.

# The format of this file is documented in the dhcpd.leases(5) manual page.

# This lease file was written by isc-dhcp-V3.0.1rc10

lease 192.168.0.20 {

starts 4 2004/12/30 03:41:09;

ends 5 2004/12/31 03:41:09;

binding state active;

next binding state free;

hardware ethernet 00:50:22:00:13:0b;

uid “0100P”002313″;

client-hostname “rudy-laptop”;

}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar